14 October 2013

Sunnah sebelum solat hari raya Aidiladha..


بسم الله الرحمان الرحيم

Saya sentiasa tersenyum mengingat cerita ummi sejak saya kecil.. :

" Esok, mahu solat raya pakai baju paling bagus!"
" Esok, jangan makan dulu. Semua siap-siap ke mesjid. Balik dari masjid, baru makan.. "
"Sebelum subuh, mandi siap-siap.. Kalau di Indonesia dulu, Aki sering bawa ummi ke tanah lapang solat raya.. Tapi di sini tak ada.."

Dahulu, saya cuma menganggap semua itu arahan dari ummi. Rupanya tidak. Ia adalah anjuran dari Rasulullah s.a.w. Bila saya besar, saya semakin mengerti. Bicara seorang ibu yang solehah itu, bukan untuk mengagungkan dirinya, bahkan untuk si anak mengagungkan Allah dan Rasulnya.

:-)

Okeh, kita masuk tajuk ya..



Sunnah-Sunnah Sebelum Solat Aidiladha


1. Mandi Dahulu Sebelum Shalat hari raya.

Diriwayatkan dari Nafi’ bahwa Abdullah Ibnu Umar radhiallahu anhuma mandi pada Hari raya sebelum berangkat.
 
Dalil yang paling kuat tentang kesunahan mandi di 2 hari raya adalah riwayat dari Al-Baihaqi melalui asy-Syafi’i tentang seseorang yang pernah bertanya kepada Ali ra tentang mandi, ia menjawab:
“Mandilah setiap hari jika engkau mengehendakinya.” Kata orang itu, ”Bukan itu yang kumaksud, tapi mandi yang memang mandi (dianjurkan).

Ali menjawab , ”Hari Jum’at, Hari Arafah, Hari Nahr dan hari Fithri
Ibnu Qudamah mengatakan bahwa karena hari Ied adalah hari berkumpulnya kaum muslimin untuk shalat, maka ia disunnahkan untuk mandi sebagaimana hari Jum’at.

2. Disunnahkan Memakai Minyak Wangi (bagi laki-laki) dan Bersiwak (gosok gigi).

Sebagaimana hal ini dianjurkan ketika mendatangi shalat Jum’at, yaitu berdasarkan hadits Ibnu Abbas Nabi saw telah bersabda pada suatu hari Jum’at:
“Sesungguhnya hari ini adalah hari Ied yang telah ditetapkan oleh Allah untuk orang-orang Islam, maka barang siapa yang mendatangi Jum’at hendaknya ia mandi, jika ia memiliki minyak wangi maka hendaknya ia mengolesinya, dan hendaknya kalian semua bersiwak.” (HR Ibnu Majah).

3. Mengenakan Pakaian yang Paling Bagus.

Pakailah pakainan yang paling bagus, namun bukan yang terbuat dari kain sutera. Berdasarkan hadits Ibnu Umar ra ia berkata:
“Umar mengambil sebuah jubah dari sutera yang dibeli dari pasar, kemudian ia membawanya kepada Rasulullah saw dan berkata
“Wahai Rasulullah berhiaslah Anda dengan mengenakan ini ketika Ied dan ketika menjadi duta."

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,” Pakaian ini hanya untuk orang yang tidak punya bagian (di akhirat, maksudnya orang kafir, ).” (Muttafaq alaih).

4. Disunnahkan Makan setelah Selesai Shalat ‘Iedul Adha.

Sebelum melakukan shalat Iedul fithri dianjurkan agar makan kurma terlebih dahulu, dan lebih utama jika dalam jumlah ganjil, sedangkan dalam shalat Iedul adha sebaliknya tidak dianjurkan makan dulu.

Diriwayatkan dari Buraidah radhiallahu anhu:
“ Rasulullah tidak keluar pada hari Iedul fithri sebelum makan, dan tidak makan pada hari Iedul adha hingga beliau menyembelih qurban.”(HR Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

5. Berjalan kaki dengan tenang dan khusyu’ menuju tempat shalat.


Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma ia berkata:
“Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa keluar menuju shalat ‘Ied dengan berjalan kaki dan pulang dengan berjalan kaki.(HR. Ibnu Majah).

6. Disunnahkan Shalat ‘Ied di Tanah lapang.

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu 'anhu berkata:

”Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam keluar pada hari Iedul Adha dan Iedul fithri menuju lapangan, dan yang pertama beliau lakukan adalah shalat (shalat Ied).

Setelah selesai shalat dan memberi salam, baginda berdiri menghadap ke (arah) orang-orang yang masih duduk di tempat shalat mereka masing-masing.

Jika baginda mempunyai hajat yang ingin disampaikan, baginda tuturkannya kepada orang-orang ataupun ada keperluan lain, maka baginda akan membuat perintah kepada kaum muslimin.

Baginda pernah bersabda dalam salah satu khutbahnya pada Hari Raya:

Bersedekahlah kamu! Bersedekahlah! Bersedekahlah! Kebanyakan yang memberi sedekah adalah kaum wanita. Kemudian baginda beranjak pergi. (Muttafaq alaih)

7. Dianjurkan agar berbeda jalan ketika berangkat dan pulang shalat ‘Ied.

Sebagaimana hadits Jabir radhiallahu 'anhu ia berkata:
“Adalah Rasulullah saw ketika di hari ‘Ied berbeda jalan (ketika berangkat dan pulang).”(HR. Bukhari)

8. Bertakbir Ketika Berangkat Dengan Lantang.

Disunahkan mengumandangkan takbir sejak tenggelamnya matahari pada malam hari raya, dan takbir ini dijadikan kesepakatan oleh empat mazhab (Mahzab Hanafi, Syafi’i, Maliki dan Hanbali) bahkan sebagian ulama ada yang mewajibkannya berdasarkan firman Allah Swt:
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa bergerak  menunaikan sholat pada hari raya , lalu beliau bertakbir sampai tiba tempat pelaksanaan sholat, bahkan sampai sholat akan dilaksanakan. 

Dalam hadits ini terkandung dalil disyari’atkannya takbir dengan suara lantang selama perjalanan menuju ke tempat pelaksanaan sholat. Tidak disyari’atkan takbir dengan suara keras yang dilakukan bersama-sama.

Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan:
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar Laa Ilaaha Ilallaah Wallaahu Akbar
Allaahu Akbar Walillaahil Hamd .

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan hanya bagi Allahlah segala pujian.”
Beliau mengucapkan takbir ini di mesjid, di rumah dan di jalan-jalan. (HR. Mushanaf Abi Syaibah)

 
9. Tidak Melakukan Shalat Sunnat Sebelum Shalat ‘Ied.

Dari Abi Sa’id Al-Khudri ra berkata:
“Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mendirikan shalat apapun sebelum ied dan apabila telah kembali ke rumah maka Beliau mendirikan shalat dua rakaat.” (HR. Ibnu Majah).

Shalat di rumah ini dimungkinkan shalat dhuha sedangkan makna hadist di atas bahwa Nabi tidak shalat sebelum Ied, karena shalat ied ketika itu diselenggarakan di lapangan sehingga tidak ada shalat tahiyatul masjid. Sedangkan jika diadakan di Masjid, maka disunahkan shalat tahiyatul Masjid.

 
Taqobbalallahu minna wa minkum :-)


PERHATIAN

10. Tidak Ada Adzan dan Iqamat Dalam Shalat ‘Ied.

Berdasarkan pada hadits Jabir bin Samurah ia berkata:”
Aku shalat ‘Ied bersama Rasulullah saw bukan sekali dua kali dengan tanpa adzan dan iqamah.”(HR Muslim).

11. Para Wanita Harus Memakai Pakaian menutup aurat. Wanita Haidh juga digalakkan bersama mendengar khutbah.

Hadits dari Ummu Athiyah ia berkata;
“Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kami keluar di Hari Raya Fithri dan Adha. Anak-anak perempuan yang telah mendekati baligh dan para gadis, beliau memerintahkan agar yang sedang haidh menjauh dari tempat shalat. Dan hendaklah mereka menyaksikan kebaikan dan da’wah muslimin.

Aku (Ummi ‘Athiyah) katakan: “Ya Rasulullah, salah satu dari kami tidak ada jilbab? Beliau menjawab: Agar saudarinya memakaikan padanya dari (salah satu) jilbabnya.” (HR Muslim).

-------------------------

copy paste dari :
Facebook Muslim.or.id

09 October 2013

Untukmu yang 'ingin kembali'...

بسم الله الرحمان الرحيم


Debu dunia dan daki-daki dosa

Benar, hari-hari kita penuh dengan daki-daki dosa.

Selangkah kita bergerak, sebuah pandangan kita lemparkan kepada bukan mahram. Senafas kita hirup, terlupa pula memuji Tuhan. Semerbak haruman indah di benak, kita terkhayalkan nikmat dunia. 

Secubit garam memasinkan lidah, kita hanya tahu mengutuk dan mencela. Terlupa bahawa nikmat masin itu tercabut dari diri orang lumpuh lidah. Sepatah kata mengalir dari bibir, jarang kita fikirkan apakah ia perlu untuk penanda baiknya iman kita.

Bahkan sering, ada manusia memuji geraak kerja kita. Ada manusia mengagumi keindahan paras wajah kita. Ada manusia teruja dengan kebijaksanaan kita.. Apakah mengalir sepatah kata "SUBHANALLAH", pensucian kepad Allah yang memiliki segala isi dunia termasuk diri kita?

Aduh, kita ini benar-benar lupa diri!

Umpama seseorang yang tidak mandi seharian. Sedangkan dia meredah denai dan menempuh debu kota. Pasti ada daki-daki yang terpalit pada diri dan pakaiannya. Semakin lama tubuhnya tidak dialirkan air dan dibersihkan dengan sabun wangi, semakin pula tubuhnya melekit dek daki-daki yang kian menebal.

Begitulah hati kita yang sentiasa diselubungi debu dan asap dunia. Andai tidak diendahkan, daki-daki yang melekat akan kian tebal dan membawa penyakit. Jangan sampai sakit itu tidak layak diubat. Cepat, carilah penawarnya!


Merasa baik , tandanya kau tidak baik!

Kata-kata ini, membuat saya kembali mencari entri tertangguh ini.

Sebuah entri bertajuk "Untukmu yang ingin kembali", saya buka. Cuma ada tajuk, sedangkan ruangan isi masih putih bersih, kosong.

Beberapa waktu yang agak lama saya tinggalkan entri ini kerana merasa tidak ada keperluan dengannya. Saya merasa, hal dakwah lebih utama dan mungkin saya sudah cukup baik untuk memohon ampun dengan sekadar istighfar.

Saya silap besar.

Penulisan Ust Pahrol Juoi di dindingg facebook menyentap jiwa saya:

"Sebaik sahaja merasa kita baik... kita belum baik!"
Benar, saya telah berdosa kerana merasa tidak berdosa.

Penulisan, adalah sebahagian kehidupan saya. Sebahagian diri saya.  Kalau baik penulisan saya, bukan kerana saya mahu menyampaikan dan menasihati orang lain semata-mata. Sebenarnya itulah harapan saya, itulah impian saya. 

Cuma, kerana saya tidak mampu merealisasikannya lagi. Maka, saya tuliskannya.. Kerana, cuma dengan susunan aksaralah saya mampu menjadkannya nyata.

Penulisan dan persoalan. 

Dua hal yang penyumbang rasa berdosa dalam diri saya.

Iyalah, sebanyak-banyak saya menulis mana tahu ada yang tersinggung dan ada pula yang tidak saya amalkan. Betapa aibnya diri kita jika berterusan begitu.

Ini hal saya. Bukan kerana mahu menjaja satu dunia soal diri, tetapi kerana itulah yag terdekat untuk saya rungkaikan.

Siapapun kita, pasti ada sebab-sebab yang membuat kita merasa berdosa. Saya juga, bukan hanya hal ini yang membuat saya berdosa. Pastilah banyak dosa lain yang turut patut saya kesalkan.

Sudahlah, usah ceritakan dosa kita kepada manusia. Fokus kita kini, kembali menuju Ilahi.

kau renung alam yang terbentang, gema panggilan Tuhan tak pernah jemu memanggilmu.. Kembalilah!


Dua bulan saya kuburkan persoalan itu

" Kak zahra, saya ada satu permintaan. Boleh tak akak buat satu entri tentang taubat dan kembali kepada fitrah seseorang?"

Ya Allah, berdosanya saya yang telah mengabaikan tanggungjawab sebagai seorang muslim dalam memberi nasihat kepada muslim lain ketika dipinta!

Dua bulan saya berdosa kerana mengabaikan soalan darinya.

Saya teringatkan sebab diturunkan surah Abasa. Abdullah Bin Ummi Maktum, seorang sahabat yang buta datang kepada rasulullah dan meminta:
" يَا رَسُوْلَ الله، عَلِّمْنِي مِمَّا عَلَّمَكَ اللَّهُ"

“Wahai Rasulullah, ajarkan kepadaku apa yang telah Allah ajarkan kepadamu.”

Mendengar teriakan beliau, baginda SAW berasa terganggu lalu bermasam muka dan berpaling kerana baginda ketika itu sedang bersemuka dengan pembesar-pembesar qurraisy.

Kemudian, Allah menegur Rasulullah kerana perbuatan baginda. Rasulullah ma'shum, maka teguran Allah bukanlah untuk kesalahan baginda bahkan peringatan untuk kita.

Saya terasa.

Dua bulan soalan ini terkubur, saya mahu menebusnya dengan penulisan ini. Semoga kebaaikan ini menghapus kesalahan saya yang lalu.


Untukmu yang ingin kembali

Begitulah kita, mana mugkin kita mampu kembali menuju Allah tanpa panduan Al-quran?

Nah, di sinilah kuncinya.

Pertama, Kalau kita benar-benar mahu KEMBALI (bertaubat), dari dosa-dosa kita samaada kecil atau besar.. tataplah Al-quran, fahami maksudnya, amalkan apa yang tertulis di dalam Al-quran seluruhnya.

Bagaimana mahu membuka hati yang terkunci andai kuncinya yang karat kita tidak bersihkan dahulu?

Atau, kalau perlu buatlah kunci baru yang berkilat dengan sinaran iman agar mudah hati itu terbuka.

Lihat, betapa Allah tahu betapa hamba-Nya memerlukan taubat dalam hidup kita ketika Allah mengulang-ulang firman-Nya dalam ayat yang berbeza:


~ KITA AKAN MENANG!
“Dan bertaubatlah kamu sekalian wahai kaum mukminin! Semoga kamu mendapat kemenangan”. (an-Nuur: 31)

~ BERSEGERALAH!
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada syurga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa”. (Ali-Imran, 133)

~ MENGAPA MASIH TIDAK MAHU BERTAUBAT?
“Maka mengapa mereka tidak mahu bertaubat kepada Allah dan memohon ampun kepadaNya? Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (Al-Maidah, 74)

~ NEVER GIVE-UP Dear..
“Katakanlah! Wahai hamba-hamba Ku yang melampaui batas terhadap dirinya sendiri! Janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnyanya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan Kembalilah kamu kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepadaNya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong (lagi)”. (az-Zumar: 53-54)

Kedua, taubat itu perlukan kesungguhan.

Ketika kita mahu bergerak menuju taubat, kadang-kadang kita kalah dengan nafsu. Ya, memang begitu sifat nafsu. Dia akan menguasai kita dan 'memijak akal' kita apabila kita mula tunduk kepadanya.

Cuma satu hal. 

Kita harus sedar akan kelemahan nafsu. Ia tidak mampu menguasai tuannya yang bermujahadah. Lebih kuat kita bermujahadah, lebih lemah nafsu dan akhirnya ia akan mula berubah menjadi seperti lembu dicucuk hidung. 

Ketika itu, kitalah manusia paling hebat kerana mampu menjinakkan nafsu. Berpuasa, itu antara mujahadah paling berkesan dan ampuh untuk menjinakkan nafsu. Dengan puasa yang mengharap redha Allah, hati mulai terdidik dan taqwa kian terbentuk.

Di saat itu, keinginan terhadap dosa mulai kendur dan syarat kedua taubat sdahpun terpatri.
 
Ketiga, Jangan pernah diulang lagi dosa itu.

Ibnul Qayyim rahimahullah pernah menyebutkan bahawa tanda-tanda diterimanya taubat seseorang dari dosa:
" Setelah bertaubat, seseorang hamba itu lebih baik dari sebelumnya.

Terus diselubungi rasa takwa dan takut terhadap dosanya dan tidak pernah merasa aman dari siksa Allah walau sekelip mata.

Terlepas dari cengkaman dosa yang dilakukan kerana penyesalan dan rasa takutkan dosa.

Lembut hatinya setelah bertaubat dengan kelembutan yang sempurna, sehingga tunduk kepada Allah walau dalam keadaan marah dan sentiasa dalam kekhusyukan." (Lihat: Madarajus Salikin. Jld. 1) 

Memanglah, Allah tetap akan menerima taubat sebayak manapun dosa yang pernah kita buat dan ulang. Tetapi, tenangkah kita bila sering memungkiri janji taubat kepada Allah?!

Apakah kita merasa taubat diterima sedangkan kita masih mengulang dosa yang sama?!

Sudah cukup rasanya soalan dan kenyataan ini untuk kita yang ingin kembali. Ketahuilah, Syurga Allah it penuh dengan nikmat yang tak pernah dilihat mata, tak pernah didengar telinga.

Untukmu yang ingin kembali, dan benar-benar mahu kembali mengecap fitrah tanpa dosa. Ulang-ulangilah membaca entri ini. Sampai isinya menyerap dan mengalir bersama aliran darah merahmu, menyentap dan merobek rasa damaimu pada daerah dosa, menarik dan menolakmu kepada amalan berpahala.

Ketahuilah, ketika kau selangkah ingin kembali... sebenarnya Allah  sudah di sisimu menanti!

Selamat kembali.

~Zaharoh Fajar Nina| 9 okt 2013 | 04:23 ~

05 October 2013

Travelog menuju pernikahan..



بسم الله الرحمان الرحيم



Dah tau nak letak gambar apa:-) "Perjalanan kita masih jauh.. La hawla wala quwwata illa billah."


Nadi galaksi


" What is family ? ",

Soalan pertama Sir Ismail Yunus pagi itu menjentik kemalasan minda.

Maklumlah, mahu ke kelas hari Sabtu memang sebuah cabaran untuk kebanyakan pelajar universiti seperti  saya. Cuma untuk kelas ini, Sir Ismail pandai mengubah cabaran itu kepada santai.

Saya merenung anak mata pensyarah  berwajah ala-ala Syah Rukh Khan itu, mencari jawapan.

“Apa itu keluarga ?”,

Sir mengulang soalan beliau dengan bahasa ibunda pula. Masih menanti jawapan dari sekitar 30 pelajar di kelas Aikol LR 6 yang dingin.

“Satu kumpulan yang terdiri daripada Mak, ayah dan anak-anak..”
Seorang pelajar lelaki berbaju merah belang-belang putih bersuara.


“Family is person that we can understand and put our trust.”, seorang pelajar perempuan memakai shawl biru menjawab penuh yakin dengan slank American english. Duduknya tepat di belakang saya. Jelas.


“Semua takrif itu betul”, Sir mula bersuara meraikan pandangan pelajar-pelajarnya.

“...Keluarga adalah nadi sebuah komuniti.”

Semua terdiam. Tidak menyangka itu jawapannya. Bahkan jawapan Sir itulah yang paling tepat. Ya, ia nadi sebuah komuniti.
“Komuniti pula, nadi kepada masyarakat.
Kemudian, kita zoom-out lagi. Masyarakat adalah nadi kepada sebuah negeri. Negeri adalah nadi kepada sebuah negara. Negara adalah nadi kepada dunia dan bumi.

Bumi pula, nadi kepada galaksi bima sakti. Galaksi bima sakti adalah nadi kepada alam semesta dan begitulah seterusnya..”

Saya membayangkan galaksi yang luas itu.

Disebabkan dahulu saya peminat tegar bidang astronomi, saya memang selalu meneroka galaksi-galaksi dan berkawan dengan planet-planet. Sampaikan, saya pernah bermimpi menjadi angkasawan muslimah pertama dunia. Lucu pula bila teringat mimpi itu.

Subhanallah.

Pantas terlantun tasbih dari bibir membayangkan betapa nadi sebuah galaksi terbesar itu bermula dari FAMILY. Maha suci Allah yang mengatur keindahan wujudnya sebuah institusi keluarga!


Nadi yang lebih utama

“Ok, sekarang cuba kita zoom-in pula. Apakah nadi sebuah keluarga?”

Soalan Sir sekali lagi menjentik keasyikan saya mengagumi sebuah institusi keluarga yang juga disebut baitul muslim. Rasanya saya tahu..

“Yes. Ayah, ibu, anak-anak, nenek dan semua ahli keluarga adalah nadi sebuah institudi keluarga”,
 Huh, Sir ini tahu sahaja jawapan dalam benak saya. Kesal kerana tidak menjawab dahulu tadi.

“Nadi bagi ahli keuarga pula?”, Sir belum puas dengan jentikan soalan-soalannya.

“Toleransi dan saling memahami...? ”, sebuah suara dari sisi kanan saya menjawab dalam nada persoalan.

“Heart”, saya menjawab perlahan.

“Tepat!”, sir dengar juga rupanya.


“Nadi dalam diri ibu, ayah, anak-anak dan semua manusia adalah HATI. Apa maksudnya? Apa dalilnya? Ya, lihat rasulullah SAW pernah bersabda mafhumnya (ada seketul daging dalam diri manusia, kalau baik ia maka baiklah tubuh manusia seluruhnya)”

Perlahan, saya alihkan pandangan ke lantai kelas.

Jubin keemasan dengan beberapa tompokan hitam bekas tapak kasut itu saya tenung dalam-dalam. Seolah terpancarkan hati sendiri, saya jadi malu. Betapa hati yang penuh tompokan hitam, kelabu dan debu-debu ini perlu dijernihkan..

“If someone hurt your heart, where do you feel?”

Saya terdiam dalam bicara hati yang bergetus-getus mahu meluahkan. Tetapi rupanya Sir lebih bijak menangani rasa hati kami. 

Soalan itu, bukannya perlukan jawapan, tetapi sebuah sindiran untuk menyedarkan.

Hati, nadi ruh dan jasad yang lebih utama. Kerana ia umpama processor bagi sebuah komputer. Kalau rosak, tidak akan bergerak!


‘People of victory’ dalam pernikahan.
“Yes, we have to purify our heart. Bersihkan hati dari perasaan sakit yang menyengat”, 
Suara datar Sir Ismail Yunus menyusup lembut ke dalam gegendang telinga. Seolah mengetuk kuat bibir menyebut ‘astaghfirullah’.


قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا * وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

Sesungguhnya, berjayalah siapa yang menyucikannya(hati) dan rugilah siapa yang mengotorinya..

Inilah firman Alllah yang berbentuk janji-Nya untuk mereka yang mengejar gelaran ‘people of victory’ ”


Saya meraup wajah. 

Merenung tajam bait-bait tulisan yang saya tercatat dalam buku CCFM di atas meja saya. Sesekali saya menyelak muka belakang buku untuk membuang resah. Saya terus menunggu Sir menyambug bicara emasnya.

“Jadi sekarang, kamu masih bujang. Apa relevan kelas pengurusan kekeluargaan ini untuk kamu?”

“Preparation..”, dengan suara rendah kelas menjawab.

“Our duty is to purify our heart. Untuk menjadi seorang ibu dan isteri, awak perlukan hati yang bersih. Untuk menjadi seorang lelaki gagah bergelar ayah dan suami, juga kamu perlukan hati yang bersih. Memang, tugas ibu dan ayah berbeza tetapi ia perlukan satu tempat yang sama, HATI.”

People of victory, manusia yang menang! 

Saya menjerit dalam hati sambil menyemat kata-kata itu lekat dalam hati dan tulisan tangan walaupun agak buruk. Biar satu masa saya perlukan kata-kata ini akan berbicara dalam susunan aksara.

“Cuba lihat perkaitan yang tidak terputus..”, 

Sir memandang saya sambil tersenyum. Suka melihat pelajarnya ternanti-nanti mungkin. Saya baliksenyum kepadanya.

“Manusia yang menang ini, akan tahu hak dan tanggungjawab masing-masig sebagai suami isteri..

..Seterusnya mereka akan tahu bagaimana mendirik anak-anak menjadi kahlifah yang tawadhu..

..Dari anak-anak beriman ini, akan terhasillah komuniti yang baik seterusnya negara yang baik. Maka, hasil dari semua ini adalah keberkatan dan  rahmat dari Allah. ”

Kelas tamat.
 
Siang itu, saya pulang dengan sebuah bekal ilmu yang tersusun rapi dalam kotak fikiran. 

Untuk sebuah travelog menuju pernikahan, kita tidak akan berbincang lagi soal calon atau apa-apa yang belum pasti. Tetapi kita akan terus berbincang soal bagaimana aqidah dan keimanan membentuk hati.

Kerana hati yang buruk dan busuk terhasil dari aqidah yang rapuh dan keyakinan yang menjelikkan. Mana mungkin seorang pendusta mempunyai aqidah yang benar? Mana mungkin seorang pengeluh nasib meyakini qadha dan qadar dengan Iman.Mana mungkin juga mereka yang tercela aqidahnya mampu benar-benar membersihkan hati dan menuju Allah dengan hati yang tenang dan diredhai. 

Langkahan kaki terus dipanjangkan, merintih agar diri pulang ke kampung syurga bersama pasangan dan keluarga yang diredhai pemilik diri, Allah.

Katakan, Amiin..  



~5:35pm | 5 Oktober 2013~

30 September 2013

Bukan salahnya pernikahan..

بسم الله الرحمان الرحيم



Pic- Walimah kak Asma Semoga terus barokah! ~gambar hiasan~

 Ana macam tak mahu kahwin


"Ana rasa macam tak mahu kahwin!", 

cetusan pandangannya tiba-tiba memecah kesunyian makan-makan petang kami. Secangkir teh peneman perbualan kami terlihat masih berasap. Sesekali asap itu melentok kek kanan kemudian hilang ditelan udara.

"Kenapa cakap macam tu?", 
saya cuba memberi perhatian kepadanya.

"Erm, bukan tak mahu. Tapi MACAM tak mahu.."


"Oh, ada jugak ye begitu?",
saya ketawa kecil. Sambil menghirup teh Indonesia yang tersedia, saya cuba mencari idea menghidupkan perbincangan.


"Erm, enti pernah kecewa dengan sesiapa kah?"

"Kecewa? Tak adalah..", 
dia menjawab tanpa memandang saya yang sedia merenungnya.


"Habis tu, kenapa 'macam' tak mahu kahwin?"

"Saja.. Tak ada apalah tadi tu. Tetiba saja nak terkeluar..", 
dia menyambut soalan saya acuh tak acuh sambil meneruskan hirupan teh panasnya.

Saya tidak puas hati.


"Kalau ada lelaki yang sebaik ayah enti, sesoleh adik lelaki enti dan bertanggungjawab seperti abang enti.. takkan enti sanggup tolak lamaran bila dia melamar awak?", 
sengaja saya memancingnya.


" Dah tu, takkan nak kahwin dengan ayah, abang atau adik lelaaki kot..", 
Dia menjawab soalan yang tidak perlukan jawapan dari saya.

Aha, pancingan mengena! Saya syok sendiri.

Sambil tersenyum 'menang' saya mula menasihatinya,
"Ah, jadi sekarang Zahra faham kenapa.."

"Faham 'kenapa' apanya?. Zahra ni suka buat assumption tiba-tiba. Entah betul entahkan tidak",
nadanya kedengaran tidak puas hati.

Sambil menuangkan teh yang masih berbaki di dalam teko, saya mengukir senyuman sambil memandang wajahnya.Selesai menuang, saya mulakan bicara santai sehikmah mungkin.


Bukan tidak mahu, tetapi kerana keliru

"Kenapa enti 'macam' tak mahu kahwin tu,, sebab enti keliru dengan diri sendiri. Kan?"

Dia cuma diam menanti saya menyambung bicara. Dia juga tahu dirinya sudah 'masuk perangkap' yang dibuatnya sendiri.

Saya dan dia sudah berkawan lama, masakan dia belum mengerti identiti 'kepolisan' yang ada pada saya. Kalau sudah buka satu topik, saya tidak suka topik itu ditelantarkan.. Saya akan selesaikan sampai tuntas!


"Iyalah, mana mungkin orang yang yakin akan menggunakan perkataan 'mungkin' dalam bab perkahwinan. Inikan pula enti tentu tahu betapa rasulullah SAW mengajurkan pernikahan untuk dua orang yang saling bercinta. Rasulullah SAW juga mengatakan bahawa bukan dari kalangan baginda siapa yang tidak mahu mengikuti sunnahnya termasuk perkahwinan "

Saya berhenti sekejap sambil menghabiskan air teh yang masih berbaki di dalam gelas. Sebenarnya saya menunggu dia menyampuk sebab kami selalunya begitu. Hampir setiap hari bertikam lidah memperdebat apa-apa isu.

Tetapi urung.

"Ana tau, sebenarnya enti bukan nak kata tak mahu kahwin. Tapi enti nak katakan lebih baik sendiri yang diredhai Allah daripada berkahwin tetapi mengundang murka Allah. Begitu kan? ", 
saya berusaha menyimpulkan sesuatu dari sembang petang itu.


Bukan salahnya pernikahan


"Ya Zahra, yang salah itu bukan pernikahan. Tetapi calon-calon dan penghuni alam pernikahan itulah yang mencorakkan dunia pernikahan. Kalau buruk sebuah pernikahan, pastilah kerana wanita atau lelaki itu buruk. Bukan kerana pernikahan itu buruk.."


"Hmm..", 
saya terdiam seketik mencerna kata-katanya yang begitu dalam. Begitulah teman saya yang seorang ini. Bicaranya emas, dia banyak diam walaupun ada banyak hal yang dia tahu.


"Ana mengaku, kata-kata awal ana tadi memang merujuk kerosakan yang berlaku kepada pemuda dan qillatur rijaal al aan(sedikitnya PEMUDA era ini). Tak payah pening kepala mencari ciri-ciri bagaimana sebenarnya suami yang baik.

Sebab, pernikahan bukan soal terkenal atau tidak lelaki itu, bukan soal hebat atau tidak dia di ranjang dakwah, bukan soal petah atau tidak dia berkata-kata dalam bicara, juga bukan soal tinggi mana jawatannya dalam organisasi dakwah dan agama..."


"Habis?", 
saya tidak sabar.


"Soal bagaimana dia mengplikasi aqidah saliimah (aqidah yang selamat) di celah-celah lautan manusia-manusia pencinta dunia dan penakut kematian.. walaupun dia mengaku 'rijal dakwah' ",


"Habis, kita perempuan tak perlu?"


"Orang yang bertanya, lebih tahu bagaimana keadaan aqidahnya dan buah dari aqidah itu. Bukankah kalau kita megutuk tandas yang kotor kita sebenarnya megutuk diri sendiri kerana tidak membersihkan kekotoran?"

Saya pula terdiam seribu bahasa.


"Betul, untuk sekitar 80 ribu perceraian yang terjadi bukan salahnya pernikahan melainkan salah kejahilan yang tidak boleh dipersalahkan. Kerana akal, ada pada pemilik kejahilan dan bukannya kejahilan itu secara zat."

Saya cuma mendengar hikmah demi hikmah yang dia tuturkan. Kata-kata yang lahir dari bibirnya penuh dengan matlamat dan ilmu. Bkan cakap-cakap kosong tentang cinta dan pernikahan. 

Orang seperti dia... beruntungnya pemuda yang mendapatkannnya.

Saya cuma berbicara dalam hati. 

Walau saya tahu dalam beberapa kisah dan berpuluh pemuda yang dia ceritakan dahulu, ada seorang yang memenuhi piawaiannya. Tetapi pemuda itu, saya juga tidak tahu apakah untuknya atau dia tidak akan bertemu lagi pemuda seperti itu?

Petang beransur senja. Langit mula memerah. Segera saya tutup jendela kamar yang masih separuh terbuka sambil menyebut 'bismillahi Allahu akbar'.

Saya berpaling kepadanya, kami tersenyum. 

Dan malam mula membelah senja di langit kampus biru..

11:57pm| 20 September 2013| Kampus biru

24 September 2013

Iman itu terapi

بسم الله الرحمان الرحيم

Indahnya bersahabat dengan Allah..


Terkilan.

Kesibukan dan 'gangguan' awal semester ini membuat saya terlepas banyak perkara. Termasuklah forum-forum berkaitan minat dan fokus saya yang saya baru tahu hari ini sedangkan forum itu semalam. 

Baru perasan yang minggu ini adalah  minggu multimedia apa entah..(sampai tak tahu.)

Segalanya bermula bila saya berusaha menjauhkan diri dari alam maya, akibat tersentap dengan pesanan Dr Rosidah pensyarah aqidah islam saya semseter ini,

"Khusus untuk muslimat, pesan ustazah kamu tidak manis bercerita aktiviti-aktiviti kamu di facebook. Ini aib besar untuk seorang muslimah yang mukmiinah. Tambahan pula kalaau gambar-gambar kamu diapajang tanpa had di laman sosial. Aib besar!"

Entah kenapa, saya terasa. 

Walaupun -alhamdulillah- saya tidak termasuk dalam kategori yang ustazah sebutkan, saya terasa ia sebuah tamparan hebat untuk saya amati dengan keimanan. Bukan dengar sekadar seperti angin lalu.

"Aktiviti seorang mukminah itu aurat, bukan semuanya boleh ditunjuk kepada dunia.."

Ya, saya hampir 100% setuju dengan Dr Rosidah. 

Kerosakan yang makin menjadi-jadi bila muslimah semakin hilang malunya. Semakin suka bila dirinya dipertonton oleh lelaki tanpa ada rasa taqwa lagi. Semakin merasa fesyen adalah alat untuk membuat dirinya dilihat dan ditinggikan darjat.

Ops, maaf. Saya bukan jumud untuk menolak semua 'kreativiti semasa'. 

Tetapi, bukankah kita diajar oleh al-quran untuk berhati-hati dengan kehidupan dunia?(Al-mulk:2).
Bukankah kita diajar untuk berbekal dengan sebaik-baik bekalan iaitu taqwa? (Al-baqarah: 197).

Ini bermakna, segala urusan kehidupan kita perlu berpusat kepada dua perkaa ini.
1) Berhati-hati terjatuh ke dalam fitnah.
2) Bertaqwa.


Kembali berjuang di alam ini

Seminggu saya tidak buka fb dan blog langsung. Tawar hati gamaknya.

Selepas seminggu, Dr Rosidah ulang lagi kata-kata yang sama di kelas berikutnya. Cuma kali ini Dr Rosidah menambah kata-katanya:

"Tangkap gambar kari, kemudian post nak bagitau dunia dia masak kari. Sampaikan ada seorang niqabis anak murid saya. Memang dia pakai bertutup tinggal dua biji mata sahaja, tetapi bila di hadapan fb sampai lewat solat fardhu. Lima ke enam jam tak berganjak dari fb. 

Agak-agaklah, bagaimana iman dia? Bolehkah kita menentukan iman berdasarkan panjangnya tudung dan kopiah putihnya?"

Ustazah tinggalkan soalan yang tidak perlukan jawapan itu dengan penuh semangat. Menjentik rasa taqwa dan ruang muhasabah dalam hati.

"Itulah iman!",
 terngiang lagi kata-kata ustazah.

"IMAN, dialah ubat bagi segala penyakit nafsu. IMAN, sejenis terapi...terapi hati.. terapi mendidik nafsu.." 

Saya mengulang-ulang pesanan ustazah beberapa kali sambil kaki meluncur laju menuju kelas Usul Fiqh pula.

18 September 2013

Berharap pada AL-WAKIIL..

بسم الله الرحمان الرحيم

Kali ini, aku tidak mahu mengharap lebih dari manusia. 

Kerana aku sedar pengharapanku pada manusia umpama pengharapan seekor labah-labah yang bertungkus-lumus menyiapkan sarangnya dengan harapan dapat dijadikan rumah tempat tinggal. 

Tetapi, sekali ditiup angin, rosak binasalah 'rumah' yang diangggap mampu membantu itu.

Laa ilaaha illallah.

Betapa lemahnya pengharapan kepada selain Allah ini!

Menulis tentang tauhid, aqidah, soal percaya dan beramal dengan kepercayaan cukup membuat jemari menggeletar kepayahan.

Sungguh, ia sangat susah.

Tetapi itulah amanAh ilmu yang perlu aku sebarkan buat kalian.

Tidak akan pernah sia-sia penantian seseorang yang disandarkan kepada Allah Al-wakiil yang maha mengurus urusan para hamba.

Kembara masih jauh.. zawwidna at-taqwa ya Allah..

Zaharoh Fajar Nina
18/9/2013
12:08 am