Skip to main content

Sunnah sebelum solat hari raya Aidiladha..


بسم الله الرحمان الرحيم

Saya sentiasa tersenyum mengingat cerita ummi sejak saya kecil.. :

" Esok, mahu solat raya pakai baju paling bagus!"
" Esok, jangan makan dulu. Semua siap-siap ke mesjid. Balik dari masjid, baru makan.. "
"Sebelum subuh, mandi siap-siap.. Kalau di Indonesia dulu, Aki sering bawa ummi ke tanah lapang solat raya.. Tapi di sini tak ada.."

Dahulu, saya cuma menganggap semua itu arahan dari ummi. Rupanya tidak. Ia adalah anjuran dari Rasulullah s.a.w. Bila saya besar, saya semakin mengerti. Bicara seorang ibu yang solehah itu, bukan untuk mengagungkan dirinya, bahkan untuk si anak mengagungkan Allah dan Rasulnya.

:-)

Okeh, kita masuk tajuk ya..



Sunnah-Sunnah Sebelum Solat Aidiladha


1. Mandi Dahulu Sebelum Shalat hari raya.

Diriwayatkan dari Nafi’ bahwa Abdullah Ibnu Umar radhiallahu anhuma mandi pada Hari raya sebelum berangkat.
 
Dalil yang paling kuat tentang kesunahan mandi di 2 hari raya adalah riwayat dari Al-Baihaqi melalui asy-Syafi’i tentang seseorang yang pernah bertanya kepada Ali ra tentang mandi, ia menjawab:
“Mandilah setiap hari jika engkau mengehendakinya.” Kata orang itu, ”Bukan itu yang kumaksud, tapi mandi yang memang mandi (dianjurkan).

Ali menjawab , ”Hari Jum’at, Hari Arafah, Hari Nahr dan hari Fithri
Ibnu Qudamah mengatakan bahwa karena hari Ied adalah hari berkumpulnya kaum muslimin untuk shalat, maka ia disunnahkan untuk mandi sebagaimana hari Jum’at.

2. Disunnahkan Memakai Minyak Wangi (bagi laki-laki) dan Bersiwak (gosok gigi).

Sebagaimana hal ini dianjurkan ketika mendatangi shalat Jum’at, yaitu berdasarkan hadits Ibnu Abbas Nabi saw telah bersabda pada suatu hari Jum’at:
“Sesungguhnya hari ini adalah hari Ied yang telah ditetapkan oleh Allah untuk orang-orang Islam, maka barang siapa yang mendatangi Jum’at hendaknya ia mandi, jika ia memiliki minyak wangi maka hendaknya ia mengolesinya, dan hendaknya kalian semua bersiwak.” (HR Ibnu Majah).

3. Mengenakan Pakaian yang Paling Bagus.

Pakailah pakainan yang paling bagus, namun bukan yang terbuat dari kain sutera. Berdasarkan hadits Ibnu Umar ra ia berkata:
“Umar mengambil sebuah jubah dari sutera yang dibeli dari pasar, kemudian ia membawanya kepada Rasulullah saw dan berkata
“Wahai Rasulullah berhiaslah Anda dengan mengenakan ini ketika Ied dan ketika menjadi duta."

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda,” Pakaian ini hanya untuk orang yang tidak punya bagian (di akhirat, maksudnya orang kafir, ).” (Muttafaq alaih).

4. Disunnahkan Makan setelah Selesai Shalat ‘Iedul Adha.

Sebelum melakukan shalat Iedul fithri dianjurkan agar makan kurma terlebih dahulu, dan lebih utama jika dalam jumlah ganjil, sedangkan dalam shalat Iedul adha sebaliknya tidak dianjurkan makan dulu.

Diriwayatkan dari Buraidah radhiallahu anhu:
“ Rasulullah tidak keluar pada hari Iedul fithri sebelum makan, dan tidak makan pada hari Iedul adha hingga beliau menyembelih qurban.”(HR Ahmad, Tirmidzi dan Ibnu Majah).

5. Berjalan kaki dengan tenang dan khusyu’ menuju tempat shalat.


Diriwayatkan dari Ibnu Umar radhiallahu anhuma ia berkata:
“Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam biasa keluar menuju shalat ‘Ied dengan berjalan kaki dan pulang dengan berjalan kaki.(HR. Ibnu Majah).

6. Disunnahkan Shalat ‘Ied di Tanah lapang.

Dari Abu Sa’id al-Khudri radhiallahu 'anhu berkata:

”Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam keluar pada hari Iedul Adha dan Iedul fithri menuju lapangan, dan yang pertama beliau lakukan adalah shalat (shalat Ied).

Setelah selesai shalat dan memberi salam, baginda berdiri menghadap ke (arah) orang-orang yang masih duduk di tempat shalat mereka masing-masing.

Jika baginda mempunyai hajat yang ingin disampaikan, baginda tuturkannya kepada orang-orang ataupun ada keperluan lain, maka baginda akan membuat perintah kepada kaum muslimin.

Baginda pernah bersabda dalam salah satu khutbahnya pada Hari Raya:

Bersedekahlah kamu! Bersedekahlah! Bersedekahlah! Kebanyakan yang memberi sedekah adalah kaum wanita. Kemudian baginda beranjak pergi. (Muttafaq alaih)

7. Dianjurkan agar berbeda jalan ketika berangkat dan pulang shalat ‘Ied.

Sebagaimana hadits Jabir radhiallahu 'anhu ia berkata:
“Adalah Rasulullah saw ketika di hari ‘Ied berbeda jalan (ketika berangkat dan pulang).”(HR. Bukhari)

8. Bertakbir Ketika Berangkat Dengan Lantang.

Disunahkan mengumandangkan takbir sejak tenggelamnya matahari pada malam hari raya, dan takbir ini dijadikan kesepakatan oleh empat mazhab (Mahzab Hanafi, Syafi’i, Maliki dan Hanbali) bahkan sebagian ulama ada yang mewajibkannya berdasarkan firman Allah Swt:
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa bergerak  menunaikan sholat pada hari raya , lalu beliau bertakbir sampai tiba tempat pelaksanaan sholat, bahkan sampai sholat akan dilaksanakan. 

Dalam hadits ini terkandung dalil disyari’atkannya takbir dengan suara lantang selama perjalanan menuju ke tempat pelaksanaan sholat. Tidak disyari’atkan takbir dengan suara keras yang dilakukan bersama-sama.

Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengucapkan:
Allaahu Akbar, Allaahu Akbar Laa Ilaaha Ilallaah Wallaahu Akbar
Allaahu Akbar Walillaahil Hamd .

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, tiada tuhan yang berhak disembah dengan sebenarnya kecuali Allah, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan hanya bagi Allahlah segala pujian.”
Beliau mengucapkan takbir ini di mesjid, di rumah dan di jalan-jalan. (HR. Mushanaf Abi Syaibah)

 
9. Tidak Melakukan Shalat Sunnat Sebelum Shalat ‘Ied.

Dari Abi Sa’id Al-Khudri ra berkata:
“Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tidak mendirikan shalat apapun sebelum ied dan apabila telah kembali ke rumah maka Beliau mendirikan shalat dua rakaat.” (HR. Ibnu Majah).

Shalat di rumah ini dimungkinkan shalat dhuha sedangkan makna hadist di atas bahwa Nabi tidak shalat sebelum Ied, karena shalat ied ketika itu diselenggarakan di lapangan sehingga tidak ada shalat tahiyatul masjid. Sedangkan jika diadakan di Masjid, maka disunahkan shalat tahiyatul Masjid.

 
Taqobbalallahu minna wa minkum :-)


PERHATIAN

10. Tidak Ada Adzan dan Iqamat Dalam Shalat ‘Ied.

Berdasarkan pada hadits Jabir bin Samurah ia berkata:”
Aku shalat ‘Ied bersama Rasulullah saw bukan sekali dua kali dengan tanpa adzan dan iqamah.”(HR Muslim).

11. Para Wanita Harus Memakai Pakaian menutup aurat. Wanita Haidh juga digalakkan bersama mendengar khutbah.

Hadits dari Ummu Athiyah ia berkata;
“Bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memerintahkan kami keluar di Hari Raya Fithri dan Adha. Anak-anak perempuan yang telah mendekati baligh dan para gadis, beliau memerintahkan agar yang sedang haidh menjauh dari tempat shalat. Dan hendaklah mereka menyaksikan kebaikan dan da’wah muslimin.

Aku (Ummi ‘Athiyah) katakan: “Ya Rasulullah, salah satu dari kami tidak ada jilbab? Beliau menjawab: Agar saudarinya memakaikan padanya dari (salah satu) jilbabnya.” (HR Muslim).

-------------------------

copy paste dari :
Facebook Muslim.or.id

Comments

Popular posts from this blog

tadabbur surah kahfi : sebab turunnya surah al-kahfi..

بسم الله الرحمان الرحيم

bersambung dari artikel ini. Muhammad bin Ishak meriwayatkan daripada ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu yang mengisahkan tentang peristiwa turunya surah al-kahfi:
"orang-orang Quraisy menghantar An-Nadhar bin Al-Haruth dan Uqbah Bin Abi mu'ith kepada beberapa orang rahib yahudi. Mereka diminta untuk bertanya tentang Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam dan apa yang para rahib itu tahu tentang diri nabi Muhammad menurut apa yang dinyatakan di dalam Taurat.
para utusan Qurais itu berkata kepada rahib-rahib yahudi yang mereka kunjungi :" kami datang kepada kamu sebagai ahli kitab yang memegang Taurat untuk mendapatkan keterangan daripadamu tentang sahabat kami Muhammad! "
orang-orang yahudi itu berkata kepada mereka(utusan Quraisy), berikanlah tiga pernyataan kepadanya,jika dia dapat memberi keterangan tentang tiga perkara itu, maka memang benar dia adalah rasul. tetapi, jika dia tidak dapat memberi keterangan itu, maka dia alah seorang yang me…

"Kerana aku pemuda akhirat.."

Ukhrawi bukan hanya itu..
“Ah, kau hanya melihat akhirat. Kau gadis ukhrawi. Maaflah, kami ini duniawi”, begitu saban hari mereka bergurau denganku.
Aku cuma tersenyum getir mendengar kenyataan itu. Bukan terasa hati. Namun kerana kecewa dengan kecilnya pandangan anak muda generasi Y pada erti keduniaan. Aku kesal dengan salah erti tentang kedunian ini.

Mereka menganggap tudung labuh, membaca al-quran, pergi ke masjid, membaca dan menulis hal-hal agama itu ‘ukhrawi’. 
Mereka menganggap orang ukhrawi hanya tahu bercakap tentang ayat al-Quran dan tafsirnya. 
Mereka menganggap orang ukhrawi itu semata-mata puasa dan solat sahaja. Itu salahnya kita anak muda. Kita tidak mampu menjadi seperti anak muda di zaman Nabi kerana mentaliti dan persepsi satu sisi yang kita cermati.

Pada aku dan sepatutnya pada kita pemuda, keduniaan bukan pada banyaknya harta semata. Keduniaan bukan juga pada tingginya pangkat. Keduniaan sama sekali tidak diukur pada cantiknya paras rupa dan mewahnya rumah serta kere…

Contengan ramadhan: Persahabatan dan TAQWA kita..

بسم الله الرحمان الرحيم



Ini benar-benar sebuah ukhuwwah..
Selesai membaca surah An-naba' ayat 31-37, saya pandang ke kiri. Jalidah tiada. Sebab selalunya, Jalidah akan berkata kepada saya;
"Zahra cepat. Nak dengar perkongsian dari Zahra.."Sebenarnya, saya bukan pandai sangat mahu bercakap dan mengulas sesuatu, tetapi sahabat sejati yang ikhlas itu kadangkala lebih meyakini kita berbanding diri kita sendiri.

Sebab itu, bila sering bersama dengan Jalidah, saya seolah diberi kekuatan untuk berkongsi.

Terutamanya untuk melontarkan idea-idea dan butiran mutiara yang menerpa ketika menelusuri patah kata dari Al-quran. Setiap kali melontarkan bait-bait al-quran yang mulia, kemudian mentadabbur maksudnya, satu demi satu kisah kehidupan terasa dirungkai.

Tetapi, kadang-kadang saya mengelak juga.
"Jalidah, ana bukan faham betul sangat pun. Takut tersalah pula..",  Dan, selalunya, Jalidah akan mendesak. Memberi harapan dan menghargai saya seadanya.
"Zahra, ana pun macam Zah…